3 Tren Penipuan Digital 2020 – 2021

Setidaknya terdapat tiga tren penipuan yang terjadi dalam sistem pembayaran melalui digital atau daring di Indonesia sepanjang tahun 2020 hingga 2021.

Persoalan itu kemungkinan akan terus berlanjut dan berkembang pada waktu yang akan datang. Pendapat serupa juga disuarakan oleh perusahaan teknologi global GBG APAC, dimana tren penipuan tersebut meliputi “money mule”, “synthetic ID” dan “stolen ID”.

Menurut Dev Dhiman Managing Director dari GBG APAC dalam salah satu diskusi virtual menyebutkan “Sebanyak 68% fraud terjadi pada kejadian money mule“.

Apa itu money mule?
Money mule adalah kejahatan dengan mentransfer sejumlah uang dalam jumlah kecil ke beberapa penerima, yang akan mendapatkan komisi jika mentransfer kembali ke penerima lain (hampir mirip dengan skema ponzi).

Apa itu Synthetic ID?
Synthetic ID adalah pembuatan identitas palsu untuk akun pada sistem pembayaran digital, dimana identitas tersebut sebenarnya tidak benar-benar nyata adanya, atau hanya dibuat untuk mengelabui dan hanya buatan dengan cara menggabungkan kredensial palsu.

Lalu apa itu Stolen ID?
Stolen ID menurut Dev Dhiman, merupakan hal yang sering terjadi di Indonesia. Dimana pelaku kejahatan siber atau Fraudster mencuri akun seseorang dengan cara mengetahui password atau pin pengguna dan biasanya kerap kali mengirimkan kode OTP lalu meminta kode tersebut kepada targetnya.

Menurut Dev Dhiman “Untuk menghindari ini semua, masyarakat harus aware dan memitigasi risiko fraud terhadap akun yang mereka miliki”.

Imansyah selaku Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital menyebut saat ini terdapat lebih dari 15 juta kasus penyalahgunaan data dari pihak yang tidak bertanggung jawab di layanan finansial dan non-finansial.

Dibutuhkan peranan semua pihak agar kasus-kasus tersebut dapat dimitigasi lebih awal dan juga masyarkat luas baik pengguna teknologi digital atau pun bukan lebih peduli dan tidak mudah terkecoh.

Imansyah mengatakan, “Harus ada edukasi dan sosialisasi, agar literasi masyarakat akan digital lebih baik. Bisa memitigasi risiko fraud ke depannya. Jadi fraud ini tidak cuma konvensional, tapi sudah menyebar ke digitalisasi.”

OJK sendiri setidaknya sudah mencoba memberikan solusi untuk memitigasi fraud pada Industri Fintech, pertama melalui Regulatory Technology (RegTech) dan yang kedua adalah Supervisory Technology (SupTech) diharapkan kedua hal tersebut bisa menjadi solusi dalam pengawasan industri fintech.

Selain melalui kedua hal tersebut OJK juga melakukan pengawasan pada transaksi AML (Anti Money Laundering), dimana hal tersebut menggunakan sistem teknologi untuk menganalisis, memprediksi dan mengidentifikasi transaksi yang mencurigakan dan mengurangi risiko kesalahan yang diharapkan bisa lebih dari 50%. Selain itu OJK pun sangat gencar melakukan trading & market surveillans dengan sistem teknologi dan data analisis, untuk mendeteksi aktivitas fraud atau pola trading yang manipulatif dan memberikan insider trading.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *